Dosen UMM Tulis Buku Alternatif Penyelesaian Sengketa

- Rabu, 11 Mei 2022 | 11:59 WIB
Dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tinuk Dwi Cahyani.
Dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tinuk Dwi Cahyani.

HALLO MALANG - Dalam menyeleseikan sengketa, masyarakat Indonesia cenderung memilih jalur pengadilan. Padahal ada jalan-jalan lain yang bisa ditempuh, yakni mediasi.

Hal itu mendorong dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tinuk Dwi Cahyani, untuk menulis buku khusus mengenai alternatif sengketa, yakni mediasi. Buku tersebut berjudul Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Tinuk, sapaan akrabnya, menilai bahwa masyarakat masih kurang mengetahui bagaimana proses mediasi. Padahal ini menjadi alternatif yang bisa dicoba selain arbitrase untuk perkara perdata seperti harta bersama.

Adapun dalam bukunya, ia tidak hanya menulis beragam teori saja. Namun juga memberikan contoh proses dan dialog yang biasa digunakan.

“Jadi pembaca bisa mengetahui dan sedikit merasakan jalannya mediasi. Di antaranya terkait bagaimana mediator membuka hingga menutup, apa yang harus disampaikan pihak satu dan pihak lainnya. Sehingga saya rasa pembaca bisa dengan mudah memahami isi buku ini,” tambah perempuan kelahiran Madiun tersebut.

Ditanya terkait alasan menulis buku itu, Tinuk mengatakan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat, warganya sudah memahami alternatif sengketa selain melalui pengadilan. Ia ingin bukunya ini mampu memberikan sumbangsih keilmuan dan wawasan bagi masyarakat luas.

Adapun produk hukum dari mediasi ini adalah akta perdamaian yang nantinya bisa didaftarkan ke pengadilan. Kemudian dijadikan sebagai penetapan maupun putusan.

“Alasan lain ya agar masyarakat tidak sedikit-sedikit ke pengadilan. Apalagi kalau lewat pengadilan, prosesnya akan sangat panjang serta putusannya diberikan oleh hakim. Berbeda dengan mediasi yang di dalamnya ada negosiasi, jadi para pihak bisa menemukan jalan tengah yang baik bagi keduanya,” tuturnya.

Selama menulis buku yang diterbitkan oleh UMM Press pada Maret 2022 itu, Tinuk mengaku tidak banyak mengalami kendala. Satu hal yang membuatnya kesulitan adalah minimnya literatur yang mengkaji mediasi. Berbeda dengan arbitrase yang kini sudah tersedia cukup banyak.

Beruntung, Tinuk sempat mengikuti pelatihan mediator yang bersertifikat Mahkamah Agung (MA) beberapa waktu lalu. Hal itu memberikan banyak materi dan sumbangsih dalam bukunya sehingga ia tidak kekurangan bahan. Apalagi kini Tinuk merupakan seorang mediator sehingga akan banyak kasus dan pengalaman yang bisa ia bagikan di bukunya tersebut.

Halaman:

Editor: Daviq Umar Al Faruq

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Polisi Cek Lokasi Rawan Kecelakaan di Malang

Kamis, 26 Mei 2022 | 09:48 WIB

Polres Malang Siap Amankan Pemilu 2024

Kamis, 26 Mei 2022 | 09:41 WIB

Polres Malang Maksimalkan Predikat WBK WBBM

Selasa, 24 Mei 2022 | 22:56 WIB

Cerita Alumnus UMM Meniti Karir di Kuwait

Senin, 23 Mei 2022 | 15:38 WIB
X